Harrison Craig


Janine, ibunya memasukkan ia ke dalam sebuah sebuah komunitas paduan suara, Victorian Boys Choir sejak Harrison berusia 9 tahun dan sering berjalannya waktu, Harrison Craig pun mengubah jalan hidupnya. Dia tidak hanya ingin mejadi bagian dari paduan suara. Ia ingin menjadi seorang penyanyi solo. Itulah sebabnya ia memberanikan diri untuk mengambil sebuah langkah besar. Pria yang berasal dari Melbourne, Victoria, Australia ini mengikuti sebuah kompetisi besar di Australia yaitu, The Voice Season 2 yang diadakan pada tahun 2012 kala ia masih berusia 18 tahun.
Apakah semuanya berjalan lancar? Sayangnya semua penyanyi pada umumnya paling sedikit memiliki satu masalah yang mampu membuat mereka tidak percaya diri. Begitu juga Harrison. Sejak kecil, ia tidak dapat berbicara dengan lacar atau apa yang kita pada umumnya ketahui adalah gagap.
Saat ia diwawancarai, ia mengakui bahwa tumbuh dengan kekurangan ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi kehidupan sehari-harinya di sekolah. Harrison juga mengutarakan bahwa ia menerima terapi bicara beberapa bulan sekali untuk memulihkan penyakit ini tapi sayang, segala sesuatunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terapi yang ia ikuti belum berhasil menyembuhkannya hingga saat ia harus mengikuti audisi. Tapi apa ia menyerah? Tentu tidak!
Pria tampan ini mengakui bahwa kehadiran sang ibu dan juga adik laki-lakinya yang memberikan ia semangat untuk terus maju.
Bahkan di saat ia mengetahui bahwa Harrison hendak mengikuti audisi The Voice, ia turut hadir di sana bersama dengan adik laki-laki Harrison, Connor. Janine mengutarakan betapa bangganya ia dapat melihat Harrison mampu sampai kepada kompetisi sebesar ini begitu pula Connor. Adik satu-satunya dari Harrison Craig ini bahkan memberikan motivasi dan mengungkapakan betapa ia menyayangi kakaknya.
Janine dan Connor menemani Harrison hingga saat ia dipanggil untuk audisi. Harrison mengakui bahwa ia merasa gugup dan berharap bahwa suaranya tidak membawa dirinya pada kegagalan dalam audisi ini.
Ia maju dan mulai menyanyikan lagu dari Josh Groban, Broken Vow. Ia menyanyikan lagu ini dengan penuh penjiwaan. Dalam sekejap ia mampu membius semua penonton dalam ruangan itu dengan kekaguman, tak terkecuali para juri. Suara yang ia takutkan akan membawa kegagalan untuknya malam itu malah membawa keajaiban yang tak pernah ia duga. Ke-4 juri menekan tombol di hadapan mereka dan memutuskan bahwa mereka menginginkan Harrison dalam tim mereka. Bahkan memberikan standing applause untuk penampilannya.
Tak ada yang tahu kekurangannya hingga ia diminta oleh salah seorang juri, Seal, untuk memperkenalkan diri. Dengan terbata-bata, Harrison menyebutkan namanya, hal ini malah disambut dengan tepuk tangan yang riuh dibarengi dengan ucapan Seal, “Harrison, that was a gift brother,
Yeah! That was a gift!” ungkap Joel Madden, mempertegas kalimat Seal.
Berikut ini merupakan kalimat-kalimat yang menjadi komentar para juri untuk penampilan Harrison Craig:
I think you have an interesting story, because when you sing, it was so natural, you look so comfortable…, I don’t care if you stutter, I don’t care, as long as you keep singing like that, I will fight like hell, to give you what you want,” (Seal)
Maybe you have stutter, but you don’t stutter at stage dude, you own the stage man, you already know what you want, you already what you’ve been doing, we’re just lucky to witness it tonight,” (Joel Madden)
Harrison, I believe you are really special… to stand up there and being strong like that is so inspiring and I want to help to make your dreams come true,” (Delta Goodream)
I love your voice, the way you communicate is so beautiful and breathtaking, I will be humble if you the part of my team and I will find you really good music that will allow you to free yourself with whatever you have within, I will do anything, anything you want for you to be able to tell your story through music, it will be a beautiful journey,” (Ricky Martin)
Pada akhirnya, Harrison menjatuhkan pilihannya pada Seal. Ia mempercayakan karirnya di The Voice pada Seal sebagai pelatihnya. Waktu berjalan, proses demi proses ia jalani demi menjadi pemenang acara bergengsi ini. Suara yang ia takutkan membawa kegagalan terus memberikan ia keajaiban, bahkan membawa ia pada Grand-Final dan berhasil meraih gelar pemenang.
Kekurangan yang kita miliki bukan alasan untuk kita bermalas-malasan dan pasrah pada keadaan. Kekurangan itu yang seharusnya menjadi batu loncatan untuk kita melompat lebih tinggi dari yang lain tapi tetap rendah hati dan menerima semua masukan yang ada.
Harrison Craig, telah membuktikan bahwa apa yang ia miliki, semua orang di sekitar kita, adalah anugrah. Jalan hidup dengan rasa syukur, buat mereka bangga dan jadilah inspirasi, di manapun kita berada.

“Even a little gratitude in life can help you survive through everything”

Comments

Popular posts from this blog

SKETSA: Another Day to Sketch (A Café Review)

Reset = Restart