Self-Blaming: One of the Deadly Root of Mental Illness

    

     


Image by Steemit

Dari tahun ke tahun, masalah mental hadir di berbagai generasi dan setiap orang melihatnya dengan cara yang berbeda. Ada yang memang peduli, ada yang punya latar belakang pengetahuan mengenai hal ini tapi juga ada orang yang malas tahu dan tanpa sadar menjadi trigger dari mental illness orang lain.

Perlu kita ketahui bahwa penyakit mental tidak tumbuh secara tiba-tiba. Mental illness itu tumbuh perlahan-lahan dalam diri seseorang, dan layaknya penyakit fisik, jika tidak ditanggulangi secepatnya, akhirnya akan fatal dan lebih sulit lagi untuk dipulihkan.

Alasan saya akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini berawal dari pembicaraan singkat dengan seorang teman. Kami membicarakan bahwa menyalahkan diri sendiri sering berakhir dengan rasa bersalah yang tiada habisnya. Saya pun jadi penasaran dan menggali lebih dalam mengenai topik tersebut. Kebetulan saja teman SMP (Nevin Uly) saya saat ini sedang mempelajari psikologi sebagai jurusan perkuliahannya. Sekedar iseng, saya pun bertanya kepada dia mengenai “self-blaming” dan dia dengan senang hati menjelaskan apa yang perlu saya ketahui mengenai salah satu akar dari penyakit mental ini.

Self-blaming adalah perilaku menyalahkan diri sendiri, di mana ketika terjadi sebuah masalah, orang yang bersangkutan akan menumpahkan semua kesalahan pada dirinya. Ketika ada sesuatu yang tidak dicapai, ia juga akan berpikir bahwa dirinya adalah sumber dari semua masalah yang ada. Yuk kita kenali dulu siklus self-blaming:


Image by PSYCHOLOGIA.CO

        1. Negative Event

Self-blaming biasanya disebakan oleh situasi tidak terduga atau ketika ada kejadian yang membuat kita tiba-tiba kesulitan dan tidak bisa dikontrol. Contohnya, sebuah acara pernikahan berjalan dengan lancar tapi tiba-tiba makanan yang sudah seharusnya tiba 30 menit yang lalu malah terlambat 15 menit dari waktu yang diberikan.

        2. It’s My Fault

Pada fase ini, orang dengan self-blaming akan menyalahkan diri mereka karena mereka berpikir bahwa mereka yang salah atau karena mereka beranggapan bahwa mereka bukan orang baik/menganggap dirinya jahat.

Contohnya, ketika sedang rekaman lagu dengan produser, kamu sempat mendengar pembicaraan di telfon bahwa mereka sepertinya akan terlambat untuk sampai ke studio. Saat itu bukannya berpikir bahwa mungkin mereka terlambat karena macet dan lain-lain, kamu akan berusaha menarik memori dari ingatanmu yang sebenarnya bukan akar dari masalah seperti: mereka terlambat karena kamu audisinya jelek, mereka terlambat karena rekaman dengan kamu itu tidak penting.

Bisa dilihat kan polanya? Orang dengan self-blaming akan menjadikan dirinya sebagai sumber masalah.

3.  Result

Kedua hal di atas akan berujung dengan rasa bersalah yang berlebihan, cemas, panik, depresi, kesepian, dan akhirnya pasif (tidak berbuat apa-apa).

Salah satu faktor yang memungkinkan hal ini terjadi adalah faktor masa kecil atau faktor lingkungannya. Jika sejak kecil anak telah didoktrin untuk memiliki tanggung jawab yang besar, dituntut supaya punya hidup yang sukses, begitu banyak aturan yang mengikat. Hal-hal ini bisa saja menimbulkan atau menumbuhkan self-blaming dalam diri anak. Di kasus lain, mungkin saja sebagai seorang anak, ia tumbuh dengan pemikiran bahwa dia selalu salah karena lingkungan tempat ia bertumbuh telah menganggap dia sebagai sumber masalah bahkan di saat dia tidak sendiri dalam melakukan sebuah kesalahan. Contohnya: Adi dan Ani sama-sama mencuri mangga tapi karena Adi terkenal sebagai ‘sumber masalah’ di kampung tersebut, jadinya cuman dia yang dihukum sementara Ani yang merupakan biang keroknya malah dibiarkan.

Banyak hal yang dapat menjadi penyebab self-blaming. Perlu kita catat baik-baik, bahwa penyebab mental illness selalu tidak terlihat tapi sebenarnya mental orang yang mengalami hal ini akan hancur perlahan-lahan.

Self-blaming tidak hanya berhenti di satu tempat. Ketika kita sudah mengalami ini, ada kemungkinan untuk kita mengalami depresi, cemas berlebihan dan panic attack.

Hilangnya motivasi dan menutup diri, merupakan salah satu akibat dari Self-Blaming. Karena semuanya dianggap sebagai kesalahan diri sendiri, pikiran yang negatif akhirnya memenuhi otak kita, dan bisa saja membuat kita berhenti mengambil keputusan. Kita takut menjadi sumber kesalahan, akhirnya kita pun mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa demi melindungi diri kita.

Self-blaming è Negative Thinking è Overthinking è Lost Motivation & Self-Isolation

Kita selalu berharap bahwa teman-teman atau orang terdekat yang memiliki masalah akan berbagi dengan kita. Ketika mereka mulai menutup diri, bisa saja hal ini disebabkan oleh self-blaming, mereka kesulitan untuk berbagi karena mereka beranggapan bahwa nantinya malah akan jadi beban buat orang lain.

Pembicaraan saya bersama Nevin berakhir dengan betapa sadarnya saya bahwa penyakit mental itu tidak sesederhana deskripsi di internet. Banyak hal yang harus diselidiki, dan akar yang telah merambat ke berbagai tempat itu telah menyebarkan racun mematikan ke aspek hidup orang yang memiliki penyakit mental. ‘Ingin sembuh’ merupakan harapan yang terbesar tapi seringkali terhalang dengan berbagai macam rintangan yang tidak diinginkan, salah satunya adalah stigma. Apa yang dipikirkan masyarakat mengenai penyakit mental setidaknya harus berevolusi agar pemulihan pasien dengan penyakit mental bisa berjalan. Kurangnya pengetahuan dan juga tenaga medis di bidang yang bersangkutan juga membuat penanggulangan penyakit mental semakin sulit untuk dilakukan. (Lebih lengkapnya mengenai data ini dapat dilihat di sini)

Di akhir dari blog ini saya ingin menyatakan bahwa apa yang tertulis masih bisa untuk diteliti lebih lanjut. Pembicaraan singkat saya bersama Nevin tidak cukup untuk membahas betapa dalamnya masalah self-blaming ini. Jika yang membaca artikel ini adalah orang tua anak yang masih bertumbuh, pastikan dia hidup tidak dalam doktrin-doktrin yang menuntut ia untuk ‘tidak berbuat kesalahan.’ Ketahuilah bahwa kesalahan adalah bagian dari pertumbuhan anak, bimbing dia supaya ia belajar dari kesalahannya dan menjadi lebih baik.

Jika kamu yang membaca ini sudah dewasa dan memang memiliki self-blaming, saya berharap setidaknya kamu bertemu dengan orang yang mampu mengerti, yang mau duduk dan mendengarkan kamu. Jika ada kesalahan, ketahui betul bahwa kamu tidak sempurna dan itu bagian dari pembelajaran. Temukan teman yang setidaknya mampu untuk bantu kamu lewati masa-masa kamu memperbaiki diri. Jika lingkungan sekkitarmu tetap memperlakukan kamu selayaknya objek yang pantas disalahkan, kamu akan kesulitan untuk bertumbuh dan jadi lebih baik.

.

.

.

Notes:

Terimakasih sudah sempatkan membaca!

Kalau punya komen dan tambahan, bisa langsung ya di kolom komentar di bawah, kita diskusi mengenai hal ini! Saya juga masih banyak belajar, jadi mohon masukannya.

Banyak terimakasih juga untuk Nevin Uly yang sudah bersedia sharing dengan saya mengenai hal ini. Lots of love for you brother! And for everyone who read this!

Comments

Popular posts from this blog

Harrison Craig

SKETSA: Another Day to Sketch (A Café Review)

Reset = Restart